• Jualan Property Online Vs Pemasaran Konvensional

  • Rabu 25 Juli 2018, 17:39 WIB
  • Jika melihat kondisi populasi penduduk Indonesia yang mencapai angka 262 juta orang, tentu Indonesia telah menjadi sebuah negara yang sangat berpotensi sebagai marketyang menarik. Jika seperempat saja jumlah penduduk itu mengkonsumsi sebuah produk, maka secara otomatis pangsa pasar yang dapat dibidik mencapai 65,5 juta orang.

    Dengan besarnya pangsa pasar ini, membuat sejumlah investor lokal maupun asing beramai-ramai membidik indonesia sebagai pasar strategis mereka. Namun yang menarik, sejak era tahun 2000an, trend pemasaran di Indonesia terus bergeser dari sistem konvensional ke sistem digital alias dunia maya. Karena lewat sistem online ini pemasaran jadi lebih optimal.

    Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia ( APJII) melaporkan bahwa dari 262 juta penduduk Indonesia itu, ternyata lebih dari 50 persen atau sekitar 143 juta orang telah terhubung dengan jaringan internet di akhir 2017 lalu. Lembaga ini juga mencatat bahwa sebagian besar pengguna internet (72,41 persen) berasal dari kalangan urban.

    Kaum urban ini tak hanya memanfaatkan internet sebagai alat berkomunikasi, tetapi ternyata mereka juga membeli barang-barang, memesan transportasi atau bahkan membeli makanan lewat apilkasi internet. Berdasarkan riset APJII, masyarakat di Pulau Jawa paling banyak menggunakan internet dan jumlahnya mencapai 57,70 persen dari 153 juta penduduk tadi. Selanjutnya penduduk Sumatera menduduki posisi kedua dengan 19,09 persen, Kalimantan 7,97 persen, Sulawesi 6,73 persen, Bali-Nusa 5,63 persen dan Maluku-Papua 2,49 persen.

    Angka-angka itu sebenarnya tidak terlalu mengherankan untuk ditelaah. Jangankan untuk bisnis-bisnis consumer good, untuk bisnis property  seperti penjualan rumah, penjualan kavling atau penjualan aparten pun terjadi lonjakan yang cukup tinggi terutama setelah tahun 2016.

    Pemasaran properti kini sudah berubah gaya 180 derajat, kalau sebelumnya para pencari aset property lebih menggunakan metode konvensional dalam mencari sebuah produk, kini calon konsumen cenderung memanfaatkan iklan-iklan properti atau situs-situs yang membahas property di internet. Bahkan orang sekarang bisa mencari rumah hanya melalui searching via google.

    Mengapa hal itu bisa terjadi? Ada beberapa faktor penyebab pergeseran gaya pemasaran dari konvensional ke digital. Berikut ini adalah beberapa alasan yang menyebabkan perubahan tersebut.

    Pertama, terjadi perubahan gaya hidup konsumen dari kalangan masyarakat kelas menengah ke atas. Kalau dulu kalangan menengah atas kerap mencari informasi lewat media massa cetak, kini kebiasaan itu mulai ditinggalkan dan mereka beralih kepada media-media massa online.  Ini sebenarnya yang sudah ditakutkan oleh Serikat Penerbit Suratkabar sejak medio 2010 lalu. Mereka memperkirakan bahwa media cetak tak akan bertahan lebih lama lagi akibat gempuran televisi, radio dan media online.

    Ternyata apa yang ditakutkan itu memang menjadi kenyataan. Coba kita lihat berapa banyak media cetak yang tumbang. Harian Bola yang digawangi grup Kompas Gramedia misalnya hanya berusia dua atau tiga tahun saja sejak berdiri 7 Juni 2013 lalu. Mereka harus gulung tikar akhir Oktober 2015 akibat terjangan media online. Atau koran Sinar Harapan yang terbit kembali Juni 2001 lalu harus “tutup” karena tak mampu bersaing dengan media online pada 31 Desember 2016 lalu. Perkembangan teknologi dan informasi lewat website dan media online inilah juga yang “memaksa” para pelaku bisnis property tak bisa terus mempertahankan gaya berjualan konvensional mereka.

    Kedua, menjaring konsumen via online jauh lebih murah dibandingkan dengan menjangkau konsumen secara konvensional di mall-mall. Apalagi terbukti penjaringan konsumen secara konvensional juga tidak terlalu efektif karena sasarannya bersifat bias. Mau bukti? Untuk membuat sebah flyer property Anda  menghabiskan anggaran 250-500 per lembar. Dengan minimal cetak 5000 eks atau anggaran yang dibutuhkan Rp 1.250.000 – Rp 2.500.000. Ditambah sewa booth anggaplah Rp 5.000.000 per minggu. Gaji SPG Rp 100,000 x 2 x 7 = Rp 1.400.000. Total yang diperlukan sekitar Rp 7 – 9 juta. Kekurangan cara ini, Anda tidak tahu siapa segmen Anda. Semua pengunjung yang lewat dibeli. Coba bandingkan dengan beriklan di FB. Dengan angka tersebut Anda bisa menjangkau lebih dari 100 ribu orang dengan usia dan tempat tinggal spesifik yang ingin Anda jangkau,

    Ketiga, Anda dapat menghemat waktu. Dengan mengunakan teknologi membuat Anda tak perlu lagi bermacet-macet ria. Bayangkan jika Anda punya aset property di Tangerang, lalu Anda ingin menjangkau konsumen di wilayah Jakarta, berapa banyak waktu yang Anda buang. Namun lewat internet Anda bisa menjangkau konsumen hanya dari kantor saja.  Kini terserah Anda, mau jualan property konvensional atau jualan property online. (w2)

     


Iniloh, Untung Rugi Investasi Emas dan Properti
Kabar Terbaru Tol Depok Antasari Buat Harga Apartemen Lavanya Kian Naik
Rumah Untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah
  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Kontak
  • FAQ
  • Kebijakan & Privasi
  • DOWNLOAD STAR HOME APPS